Kamis, 04 Juni 2009

Wajah Ayah

Terbujur kaku
Mengiris pandangan mata
Auranya peluh kelelahan
Garis-garis wajah mulai terukir
Ia tertawa saat malam
Tapi saat diam, wajah itu seperti kini

Tersenyum hati saat mata berkaca
Apa yang diperbuat siang hingga mengeruhkan wajah bening itu
Mungkin ia terlalu mengabdi
Sampai lupa pada hari
Hanya sosok-sosok tercinta yang lewati garis ingatannya
Bara panas yang menggilas hidupnya tiap menit
Tak mampu membakar lengannya
Bara itu terlalu dingin bagi gurun pengorbanannya yang kian memanas
Karena tiap esok
Ia selalu bentangkan sayap
Rengkuh dunia melewati gurun itu

Kini wajah itu sedang bermain-main dengan mimpi
Mimpi nikmatnya
Yang membawanya hingga subuh menyeru manusia

0 komentar:

Posting Komentar